Kisah ini diambil dari tulisan Ustadz Yusuf Mansyur di salah satu bukunya.
Sebut saja namanya Mulyadi, seorang karyawan sebuah perusahaan kontraktor yang juga mengelola sendiri sebuah usaha jasa transportasi. Namun kehidupannya tidaklah seindah yang dibayangkan, akhir-akhir ini Mulyadi mengalami tekanan yang sangat berat, kesulitan-kesulitan makro ekonomi berimbas pada usaha yang dikelolanya. Aset perusahaannya yang mencapai 2 Milyar terancam disita oleh bank, itupun belum cukup untuk melunasi HUTANG perusahaannya yang hampir 3 MILYAR.
Sore itu, untuk pertama kalinya dalam sejarah setelah dia mapan bekerja, Mulyadi naik kendaraan umum (busway)untuk pulang ke rumah. Biasanya dia selalu menggunakan kendaraan pribadi lengkap dengan sopirnya.
Ketika waktu sholat maghrib tiba, dia memutuskan untuk menunaikan shalat maghrib dan beriktikaf menunggu shalat Isya di Masjid Al Azhar.
Selepas shalat Maghrib kebetulan ada tausiyah yang disampaikan seorang ustadz muda. Dalam ceramahnya, ustadz itu mengatakan, “ Mungkin ada di antara jamaah yang hadir disini adalah orang yang sama sekali tidak berniat untuk datang ke Al Azhar sebelumnya dan juga mendengarkan tausiyah dari saya. Namun, jamaah tersebut saat ini sedang dilanda kesulitan yang luar biasa.”
Mulyadi tersentak mendengar penuturan ustadz tersebut karena bagaimana bisa apa yang disampaikan ustadz koq rasanya pas sekali dengan apa yang sedang dialaminya saat ini. Mulyadi pun dengan khusuk mendengarkan ceramah ustadz tersebut.
Pada intinya ustadz tersebut menyampaikan cara yang harus kita lakukan untuk mengatasi kesulitan dan mendapat pertolongan Allah SWT adalah dengan BERSEDEKAH, terutama dengan BARANG BERHARGA yang KITA CINTAI.
Mendengar hal tersebut Mulyadi tergerak untuk mengikhlaskan jam tangan merek Bvlgari seharga 3.000 dolar Amerika yang melingkar di tangannya untuk disedekahkan. Karena pada saat itu harta yang paling berharga padanya hanya jam tangan tersebut, sebab di dompetnyapun hanya ada uang sebesar Rp. 110.000,- saldo uang di ATM juga sudah sangat minim, sedangkan kartu kreditnya sudah over limit.
Jika menyedekahkan uang Rp. 100.000,- maka uang yang tersisa adalah Rp. 10.000,- sementara dia tidak memiliki cukup uang lagi. Ketika akan menyedekahkan jam tersebut, rasa berat menghantui perasaannya. Karena jam tangan itu adalah tipe jam yang diidam-idamkannya dari dulu. Namun, segera ia menepis semua keraguan tersebut. Ketika akhirnya dia tawarkan dan dilelang pada saat itu juga, jam itu dibeli oleh salah seorang jamaah “hanya” seharga Rp. 200.000,-.
Sepulang dari masjid entah kenapa hatinya menjadi ringan. Mulyadi merasa ketika itu ia mencapai titik kepasrahaan tertinggi, yang baru pertama kali dia alami selama hidupnya. Mulyadi sudah siap menerima keputusan apapun, termasuk hilangnya semua aset dari perusahaan yang dia miliki.
Namun Subhanallah…belum jauh keluar dari Masjid Al Azhar, tiba-tiba telepon genggamnya berdering. Orang yang menelepon ternyata berasal dari sebuah lembaga yang dulu pernah mengadakan tender proyek. Pengajuan tender itu sendiri sudah cukup lama, bahkan Mulyadi sudah hampir melupakan pengajuan proposal itu.
Penelepon bertanya apakah Mulyadi berniat meneruskan proyeknya atau tidak. Segera saja Mulyadi mengiyakan. Dalam hatinya, Mulyadi bersyukur karena Allah telah menggerakkan hati orang-orang yang ada di lembaga tersebut untuk mengakomodasi proposalnya.
Berselang dua hari setelah menyedekahkan jam Bvlgari-nya, Mulyadi diminta datang ke kantor rekanan tersebut dengan agenda eksekusi pemenang lelang tender. Dan Mulaydipun ditunjuk sebagai pemenang tersebut.
Tidak sampai seminggu, Mulyadi sudah menandatangai Surat Perjanjian Kerjasama. Uang muka honorarium pun telah dikirim ke rekening Mulyadi. Pada hari batas terakhir dimana ia harus melunasi hutangnya Mulyadi pergi ke Bank, Subhanallah sudah ada jumlah UANG yang LEBIH DARI CUKUP untuk menyelesaikan semua kewajibannya.
Mulyadi bersyukur Allah telah memberinya kesulitan hidup karena dengan momentum tersebut ia kembali menemukan bukti Kebesaran Allah.
Sedekah benar-benar mampu mempercepat “intervensi” Allah atas semua kesulitan kita.
NB : Are - C ( Ar Rahma Education Center ) tergerak untuk membantu menyalurkan sedekah anda untuk anak-anak yatim piatu, anak-anak usia sekolah dasar yang "kurang beruntung".
Sebut saja namanya Mulyadi, seorang karyawan sebuah perusahaan kontraktor yang juga mengelola sendiri sebuah usaha jasa transportasi. Namun kehidupannya tidaklah seindah yang dibayangkan, akhir-akhir ini Mulyadi mengalami tekanan yang sangat berat, kesulitan-kesulitan makro ekonomi berimbas pada usaha yang dikelolanya. Aset perusahaannya yang mencapai 2 Milyar terancam disita oleh bank, itupun belum cukup untuk melunasi HUTANG perusahaannya yang hampir 3 MILYAR.
Sore itu, untuk pertama kalinya dalam sejarah setelah dia mapan bekerja, Mulyadi naik kendaraan umum (busway)untuk pulang ke rumah. Biasanya dia selalu menggunakan kendaraan pribadi lengkap dengan sopirnya.
Ketika waktu sholat maghrib tiba, dia memutuskan untuk menunaikan shalat maghrib dan beriktikaf menunggu shalat Isya di Masjid Al Azhar.
Selepas shalat Maghrib kebetulan ada tausiyah yang disampaikan seorang ustadz muda. Dalam ceramahnya, ustadz itu mengatakan, “ Mungkin ada di antara jamaah yang hadir disini adalah orang yang sama sekali tidak berniat untuk datang ke Al Azhar sebelumnya dan juga mendengarkan tausiyah dari saya. Namun, jamaah tersebut saat ini sedang dilanda kesulitan yang luar biasa.”
Mulyadi tersentak mendengar penuturan ustadz tersebut karena bagaimana bisa apa yang disampaikan ustadz koq rasanya pas sekali dengan apa yang sedang dialaminya saat ini. Mulyadi pun dengan khusuk mendengarkan ceramah ustadz tersebut.
Pada intinya ustadz tersebut menyampaikan cara yang harus kita lakukan untuk mengatasi kesulitan dan mendapat pertolongan Allah SWT adalah dengan BERSEDEKAH, terutama dengan BARANG BERHARGA yang KITA CINTAI.
Mendengar hal tersebut Mulyadi tergerak untuk mengikhlaskan jam tangan merek Bvlgari seharga 3.000 dolar Amerika yang melingkar di tangannya untuk disedekahkan. Karena pada saat itu harta yang paling berharga padanya hanya jam tangan tersebut, sebab di dompetnyapun hanya ada uang sebesar Rp. 110.000,- saldo uang di ATM juga sudah sangat minim, sedangkan kartu kreditnya sudah over limit.
Jika menyedekahkan uang Rp. 100.000,- maka uang yang tersisa adalah Rp. 10.000,- sementara dia tidak memiliki cukup uang lagi. Ketika akan menyedekahkan jam tersebut, rasa berat menghantui perasaannya. Karena jam tangan itu adalah tipe jam yang diidam-idamkannya dari dulu. Namun, segera ia menepis semua keraguan tersebut. Ketika akhirnya dia tawarkan dan dilelang pada saat itu juga, jam itu dibeli oleh salah seorang jamaah “hanya” seharga Rp. 200.000,-.
Sepulang dari masjid entah kenapa hatinya menjadi ringan. Mulyadi merasa ketika itu ia mencapai titik kepasrahaan tertinggi, yang baru pertama kali dia alami selama hidupnya. Mulyadi sudah siap menerima keputusan apapun, termasuk hilangnya semua aset dari perusahaan yang dia miliki.
Namun Subhanallah…belum jauh keluar dari Masjid Al Azhar, tiba-tiba telepon genggamnya berdering. Orang yang menelepon ternyata berasal dari sebuah lembaga yang dulu pernah mengadakan tender proyek. Pengajuan tender itu sendiri sudah cukup lama, bahkan Mulyadi sudah hampir melupakan pengajuan proposal itu.
Penelepon bertanya apakah Mulyadi berniat meneruskan proyeknya atau tidak. Segera saja Mulyadi mengiyakan. Dalam hatinya, Mulyadi bersyukur karena Allah telah menggerakkan hati orang-orang yang ada di lembaga tersebut untuk mengakomodasi proposalnya.
Berselang dua hari setelah menyedekahkan jam Bvlgari-nya, Mulyadi diminta datang ke kantor rekanan tersebut dengan agenda eksekusi pemenang lelang tender. Dan Mulaydipun ditunjuk sebagai pemenang tersebut.
Tidak sampai seminggu, Mulyadi sudah menandatangai Surat Perjanjian Kerjasama. Uang muka honorarium pun telah dikirim ke rekening Mulyadi. Pada hari batas terakhir dimana ia harus melunasi hutangnya Mulyadi pergi ke Bank, Subhanallah sudah ada jumlah UANG yang LEBIH DARI CUKUP untuk menyelesaikan semua kewajibannya.
Mulyadi bersyukur Allah telah memberinya kesulitan hidup karena dengan momentum tersebut ia kembali menemukan bukti Kebesaran Allah.
Sedekah benar-benar mampu mempercepat “intervensi” Allah atas semua kesulitan kita.
NB : Are - C ( Ar Rahma Education Center ) tergerak untuk membantu menyalurkan sedekah anda untuk anak-anak yatim piatu, anak-anak usia sekolah dasar yang "kurang beruntung".
Salurkan sedekah Anda ke REKENING BRI : 122901001294506 a/n Sdra. Dedik Kurnia (Pengelola Are-C)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar