Sabtu, 05 Desember 2009

SHODAQOH DAN MENABUNG Oleh: Ahmad Gozali



Dikutip dari Harian Republika, Maret 2004
Bpk Ahmad Gozali Yth.
Orang yang banyak shadaqah hakikatnya adalah orang yang paling kaya. Tapi, tabungan masa depan juga penting. Bagaimana mengatur alokasi dan persentase pengeluaran, khususnya untuk dua hal tersebut? Atas jawaban Bapak saya mengucapkan terima kasih.





Jawab:

Shadaqah dan menabung adalah dua hal yang sama-sama dianjurkan dalam Islam. Karena dalam rezeki yang kita dapatkan, ada hak orang lain yang tidak mampu yang dititipkan Allah melalui tangan kita. Dalam harta kita pun ada hak keluarga yang nafkahnya menjadi tanggungjawab kita, sekarang dan di masa depan.
Percuma saja menabung kalau tidak bershadaqah. Pertama, tanpa bershadaqah kita tidak akan pernah merasa kaya. Sehingga kita tidak akan pernah puas dalam memiliki harta. Akhirnya perasaan tamak bisa menguasai kita dan berapapun harta yang kita miliki menjadi tidak cukup. Kedua, tanpa shadaqah menyebabkan semakin besarnya jurang antara kaya dan miskin. Jika keadaan ini berlanjut, sangat potensial meningkatnya tingkat kriminalitas dan kerawanan sosial lainnya. Dan pada akhirnya akan menyebabkan iklim investasi menjadi tidak kondusif. Tabungan Anda pun mungkin menjadi sia-sia saja karena tidak bisa berkembang di tengah iklim investasi yang tidak kondusif.
Begitu juga kalau kita hanya shadaqah saja namun melupakan untuk menabung. Hal ini menjadi tidak adil karena keluarga kita sebenarnya memiliki hak atas nafkah yang menjadi tanggung jawab kita. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Untuk itu kita diwajibkan untuk mengantisipasinya. Dan salah satu caranya adalah dengan menabung.
Mengenai prioritasnya, saya sarankan agar Anda lebih memprioritaskan shadaqah lebih utama dibandingkan menabung karena shadaqah adalah hak Allah yang harus dipenuhi. Semua rezeki yang kita terima pada dasarnya adalah dari Allah SWT, oleh karenanya wajar sekali kalau kita prioritaskan hak-Nya terlebih dahulu.
Menabung juga saya sarankan agar lebih diprioritaskan daripada biaya hidup sekarang. Kenapa begitu? karena untuk biaya hidup sekarang biasanya bisa dengan fleksibel kita atur. Kalau kita mendahulukan biaya hidup sekarang dan hanya menunggu sisa uang untuk menabung, biasanya sih uangnya akan habis lebih dahulu sebelum sempat ditabung.
Sedangkan mengenai jumlahnya, shadaqah paling minimal adalah zakat yang wajib. Lebih dari itu diserahkan kepada Anda sendiri untuk menentukan besarnya selama Anda bisa ikhlas diniatkan karena Allah. Karena seberapa besarnya pun harta yang Anda keluarkan jika tanpa dibarengi keihklasan maka harta itu menjadi tidak bernilai di mata Allah. Dan jangan sampai shadaqah yang dikeluarkan sampai menelantarkan keluarga yang masih menjadi tanggungan. Rasulullah sendiri pernah menolak shadaqah dari seorang sahabatnya yang ingin menginfakkan seluruh harta miliknya karena beliau khawatir hal itu akan menelantarkan keluarganya.
Begitu juga dengan jumlah tabungan yang ideal. Tidak ada angka yang pasti, semuanya terserah Anda. Yang penting adalah dalam menentukan jumlah tabungan hendaknya memperhatikan Rencana Keuangan Anda sendiri. Tujuan Keuangan apa saja yang ingin dicapai di masa depan dan berapa dana yang dibutuhkan. Dari situ Anda bisa menentukan berapa jumlah tabungan yang ideal untuk mencapai Tujuan Keuangan tersebut.

Sabtu, 21 November 2009

Memahami Makna Idul Adha


Ditulis oleh Yusuf Fatawie*   
Bulan ini merupakan bulan bersejarah bagi umat Islam. Pasalnya, di bulan ini kaum muslimin dari berbagai belahan dunia melaksanakan rukun Islam yang kelima. Ibadah haji adalah ritual ibadah yang mengajarkan persamaan di antara sesama. Dengannya, Islam tampak sebagai agama yang tidak mengenal status sosial. Kaya, miskin, pejabat, rakyat, kulit hitam ataupun kulit putih semua memakai pakaian yang sama. Bersama-sama melakukan aktivitas yang sama pula yakni manasik haji.
Selain ibadah haji, pada bulan ini umat Islam merayakan hari raya Idul Adha. Lantunan takbir diiringi tabuhan bedug menggema menambah semaraknya hari raya. Suara takbir bersahut-sahutan mengajak kita untuk sejenak melakukan refleksi bahwa tidak ada yang agung, tidak ada yang layak untuk disembah kecuali Allah, Tuhan semesta alam.
Pada hari itu, kaum muslimin selain dianjurkan melakukan shalat sunnah dua rekaat, juga dianjurkan untuk menyembelih binatang kurban bagi yang mampu. Anjuran berkurban ini bermula dari kisah penyembelihan Nabi Ibrahim kepada putra terkasihnya yakni Nabi Ismail.
Peristiwa ini memberikan kesan yang mendalam bagi kita. Betapa tidak. Nabi Ibrahim yang telah menunggu kehadiran buah hati selama bertahun-tahun ternyata diuji Tuhan untuk menyembelih putranya sendiri. Nabi Ibrahim dituntut untuk memilih antara melaksanakan perintah Tuhan atau mempertahankan buah hati dengan konsekuensi tidak mengindahkan perintahNya. Sebuah pilihan yang cukup dilematis. Namun karena didasari ketakwaan yang kuat, perintah Tuhanpun dilaksanakan. Dan pada akhirnya, Nabi Ismail tidak jadi disembelih dengan digantikan seekor domba. Legenda mengharukan ini diabadikan dalam al Quran surat al Shaffat ayat 102-109.
Kisah tersebut merupakan potret puncak kepatuhan seorang hamba kepada Tuhannya. Nabi Ibrahim mencintai Allah melebihi segalanya, termasuk darah dagingnya sendiri. Kecintaan Nabi Ibrahim terhadap putra kesayangannya tidak menghalangi ketaatan kepada Tuhan. Model ketakwaan Nabi Ibrahim ini patut untuk kita teladani.
Dari berbagai media, kita bisa melihat betapa budaya korupsi masih merajalela. Demi menumpuk kekayaan rela menanggalkan ”baju” ketakwaan. Ambisi untuk meraih jabatan telah memaksa untuk rela menjebol ”benteng-benteng” agama. Dewasa ini, tata kehidupan telah banyak yang menyimpang dari nilai-nilai ketuhanan. Dengan semangat Idul Adha, mari kita teladani sosok Nabi Ibrahim. Berusaha memaksimalkan rasa patuh dan taat terhadap ajaran agama.
Di samping itu, ada pelajaran berharga lain yang bisa dipetik dari kisah tersebut. Sebagaimana kita ketahui bahwa perintah menyembelih Nabi Ismail ini pada akhirnya digantikan seekor domba. Pesan tersirat dari adegan ini adalah ajaran Islam yang begitu menghargai betapa pentingnya nyawa manusia.
Hal ini senada dengan apa yang digaungkan Imam Syatibi dalam magnum opusnya al Muwafaqot. Menurut Syatibi, satu diantara nilai universal Islam (maqoshid al syari’ah) adalah agama menjaga hak hidup (hifdzu al nafs). Begitu pula dalam ranah fikih, agama mensyari’atkan qishosh, larangan pembunuhan dll. Hal ini mempertegas bahwa Islam benar-benar melindungi hak hidup manusia. (hlm.220 )   
 Nabi Ismail rela mengorbankan dirinya tak lain hanyalah demi mentaati perintahNya. Berbeda dengan para teroris dan pelaku bom bunuh diri. Apakah pengorbanan yang mereka lakukan benar-benar memenuhi perintah Tuhan demi kejayaan Islam atau justru sebaliknya?.
Para teroris dan pelaku bom bunuh diri jelas tidak sesuai dengan nilai universal Islam. Islam menjaga  hak untuk hidup, sementara mereka—dengan aksi bom bunuh diri— justru mencelakakan  dirinya sendiri. Di samping itu, mereka juga membunuh rakyat sipil tak bersalah, banyak korban tak berdosa berjatuhan. Lebih parah lagi, mereka  bukan membuat Islam berwibawa di mata dunia, melainkan menjadikan Islam sebagai agama yang menakutkan, agama pedang dan sarang kekerasan. Akibat aksi nekat mereka ini justru menjadikan Islam laksana ”raksasa” kanibal yang haus darah manusia.
Imam Ghazali dalam Ihya ’Ulumuddin pernah menjelaskan tentang tata cara melakukan amar ma’ruf nahi munkar.  Menurutnya, tindakan dalam bentuk aksi pengrusakan, penghancuran tempat kemaksiatan adalah wewenang negara atau badan yang mendapatkan legalitas negara. Tindakan yang dilakukan Islam garis keras dalam hal ini jelas tidak prosedural. (vol.2 hlm.311)
Sudah semestinya dalam melakukan amar makruf nahi munkar tidak sampai menimbulkan kemunkaran yang lebih besar. Bukankah tindakan para teroris dan pelaku bom bunuh diri ini justru merugikan terhadap Islam itu sendiri ?. Merusak citra Islam yang semestinya mengajarkan kedamaian dan rahmatan lil ’alamin. Ajaran Islam yang bersifat humanis, memahami pluralitas dan menghargai kemajemukan semakin tak bermakna.
Semoga dengan peristiwa eksekusi mati Amrozi cs, mati pula radikalisme Islam, terkubur pula Islam yang berwajah seram. Pengorbanan Nabi Ismail yang begitu tulus menjalankan perintahNya jelas berbeda dengan pengorbanan para teroris.
Di hari Idul Adha, bagi umat Islam yang mampu dianjurkan untuk menyembelih binatang kurban. Pada dasarnya, penyembelihan binatang kurban ini mengandung dua nilai yakni kesalehan ritual dan kesalehan sosial. Kesalehan ritual berarti dengan berkurban, kita telah melaksanakan perintah Tuhan yang bersifat transedental. Kurban dikatakan sebagai kesalehan sosial karena selain sebagai ritual keagamaan, kurban juga mempunyai dimensi kemanusiaan.
Bentuk solidaritas kemanusiaan ini termanifestasikan secara jelas dalam pembagian daging kurban. Perintah berkurban bagi yang mampu ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang respek terhadap fakir-miskin dan kaum dhu’afa lainnya. Dengan disyari’atkannya kurban, kaum muslimin dilatih untuk mempertebal rasa kemanusiaan, mengasah kepekaan  terhadap masalah-masalah sosial, mengajarkan sikap saling menyayangi terhadap sesama.
Meski waktu pelaksanaan penyembelihan kurban dibatasi (10-13 Dzulhijjah), namun jangan dipahami bahwa Islam membatasi solidaritas kemanusiaan. Kita harus mampu menangkap makna esensial dari pesan yang disampaikan teks, bukan memahami teks secara literal. Oleh karenanya, semangat untuk terus ’berkurban’ senantiasa kita langgengkan pasca Idul Adha.
Saat ini kerap kita jumpai, banyak kaum muslimin yang hanya berlomba meningkatkan kualitas kesalehan ritual tanpa diimbangi dengan kesalehan sosial. Banyak umat Islam yang hanya rajin shalat, puasa bahkan mampu ibadah haji berkali-kali, namun tidak peduli dengan masyarakat sekitarnya. Sebuah fenomena yang menyedihkan. Mari kita jadikan Idul Adha sebagai momentum untuk meningkatkan dua kesalehan sekaligus yakni kesalehan ritual dan kesalehan sosial. Selamat berhari raya !